Posts

Pelajaran dari Demam

Image
Memilih profesi menjadi ibu mewajibkan saya untuk menguasai berbagai life skills . Seperti yang kita semua tau, seorang ibu adalah bagian keluarga yang merangkap koki, dokter, guru, perawat, manajer keuangan, ahli gizi, dan segala profesi lain yang sewaktu-waktu dibutuhkan. Singkatnya, palugada. Dini hari tadi, kompetensi saya dalam menjalani karir sebagai ibu diuji. Kali ini, ujiannya seputar penanganan demam pada anak. Sebelumnya, saya sempat membeli dan membaca skimming buku 'Berteman Dengan Demam' karya dr. Arifianto, Sp.A atau @dokterapin— pediatri pilihan saya untuk Rania. Dari buku itu saya belajar supaya nggak panik dan fever phobia .  Alhamdulillah, karena Rania nggak pernah sakit selama ini kecuali demam pasca-imunisasi, apa yang saya baca belum pernah saya praktekkan. Rania mulai demam Senin sore. Saya kekeuh untuk melakukan apa yang sudah saya pelajari, saya mau memberikan yang terbaik untuk Rania dengan menerapkan prinsip rational use of medicine (RUM...

Piknik Makan Siang di Kebun Raya Bogor

Image
Sejak hamil, saya ingin anak saya tumbuh menjadi anak yang senang dengan sejuknya alam. Saya ingin menanamkan rasa cinta pada alam sembari menjauhkan Rania dari godaan konsumerisme dan hedonisme yang ditawarkan di pusat perbelanjaan dan hiburan. Maklum, kawasan tempat tinggal kami dikelilingi mall-mall yang cukup ramai. Karena itu, saya ingin membiasakan Rania untuk menikmati wisata outdoor sedari dini. Dimulai dari yang dekat dan terjangkau, lokasi wisata pertama yang Rania kunjungi adalah Kebun Raya Bogor (KRB). Perjalanan menuju KRB menggunakan kereta Commuter Line (CL) Hari itu kebetulan suami saya sedang bertugas ke luar kota, sehingga saya dan Rania menginap di rumah orang tua saya. Kami berangkat dari stasiun kereta Pasar Minggu sekitar pukul 10.30—padahal rencananya kami berangkat jam 9 pagi ke stasiun, tapi setelah mandi dan sarapan pukul 8.30, Rania malah ngantuk lalu tertidur pulas sampai jam 10. Saya memilih moda transportasi CL selain karena cepat, juga kar...

Akhirnya Memilih Resign

Image
Wacana resign sebenarnya sudah lama menjadi bahan diskusi antara saya dan suami. Waktu itu, saya sedang hamil muda dengan symptom sakit kepala berkepanjangan akibat hormon. Namun kala itu Partner ( re : level tertinggi di Kantor Akuntan Publik) saya menyarankan untuk tetap bekerja di sana, dengan segala privilege untuk wanita hamil yang beliau tawarkan. Akhirnya saya goyah dan batal mengajukan resign. 1 tahun berlalu. Bayi mungilku sudah memasuki usia 5 bulan, namun rasanya 3 bulan maternity leave ditambah 2 bulan masa praktik menjadi working mom masih belum cukup untuk menemukan ritme yang pas agar saya bisa istirahat dengan cukup. Saya selalu mengawali pagi dengan rasa kantuk karena jam tidur yang minim, siang hari yang kurang fokus karena lelah dan mengantuk, serta malam hari yang penuh kekhawatiran tentang bagaimana menjalani hari esok, takut malam ini anakku rewel--yang meski pada kenyataannya ia amat jarang terbangun rewel di malam hari. Mengapa memutuskan un...